STT Amanat Agung Repository

Gereja Etnik: Di antara Efektivitas dan Eksklusivitas

Show simple item record

dc.contributor.author Casthelia Kartika
dc.date.accessioned 2024-11-14T02:14:10Z
dc.date.available 2024-11-14T02:14:10Z
dc.date.issued 2024-08
dc.identifier.isbn 978-623-98922-9-6
dc.identifier.uri https://repository.sttaa.ac.id/xmlui/handle/123456789/696
dc.description Setelah mengamati perkembangan gereja di Indonesia bahkan dunia, ternyata cukup banyak gereja yang ditumbuhkan dengan basis etnis tertentu. Dalam konteks gereja di Indonesia, misalnya, ada HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) yang mayoritas jemaatnya berasal dari suku Batak Toba, GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) yang jemaatnya didominasi oleh suku Batak Karo, atau BNKP (Banua Niha Keriso Protestan) yang merupakan gereja dari suku Nias. Masih banyak lagi gereja etnik lainnya yang menyebutkan nama suku tertentu sebagai identitas, seperti Gereja Toraja, Gereja Minahasa, Gereja Maluku, Gereja Jawa, dan sebagainya. Suku diletakkan sebagai identitas yang melekat pada gereja, termasuk juga di antaranya adalah etnis Tionghoa, meskipun gereja-gereja Tionghoa tidak secara spesifik menyebutkan nama suku sebagai identitas, lebih kepada penerapan kultur dan tradisinya. Fenomena dan keberadaan gereja suku ini menimbulkan pertanyaan: Apakah gereja berbasis etnis tertentu ini sesuai dengan natur dan panggilan gereja sebagai komunitas orang percaya yang seharusnya membaur dan tidak mempertahankan sifat eksklusif pada satu kondisi tertentu, termasuk di antaranya etnis? Bagi kelompok yang sangat sensitif dengan isu rasial dan etnis, keberadaan gereja berbasis kesukuan ini menjadi sebuah kritik tajam, karena dianggap menjauh dari konsep gereja—yang seharusnya mengedepankan inklusivitas dan bukan eksklusivitas. Prinsip ini didasarkan pada pemahaman bahwa gereja adalah satu, dan itu dituliskan oleh Rasul Paulus dalam surat Galatia 3:28 yang mengatakan, “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Kecenderungan homogenitas dalam gereja dinilai salah, karena akan membuat orang hanya ingin bergereja dengan orang-orang yang sama seperti dirinya. Di sisi lain, ada kelompok yang meyakini bahwa gereja berbasis etnik tertentu baik untuk dipertahankan. Mereka menganggap, justru dengan pola pengembangan gereja etnik, terlihat jelas bahwa berkumpulnya kelompok etnik tertentu secara positif dapat memberi motivasi untuk pembangunan identitas, bahkan dapat menjadi elemen penting dalam mempertahankan identitas suku tersebut. Hal ini juga menjadi tempat sosialisasi etnik yang berguna untuk pengembangan relasi sosial yang seharusnya diwariskan dan ditransmisikan kepada generasi yang lebih muda. Masing-masing pandangan ini memiliki argumentasi yang cenderung lebih membenarkan satu dari yang lain. Dalam perkembangannya, muncul berbagai pandangan yang menyuarakan bahwa praktik bergereja yang multi-etnik lebih benar ketimbang dengan corak mono-etnik yang dianggap bersifat segregatif. Di antara berbagai pendapat yang cukup problematik tersebut, tulisan ini bermaksud menjawab pertanyaan terkait apakah keberadaan gereja etnik dapat makin menyuburkan eksklusivitas gereja, atau justru sebaliknya, tidak mengurangi semangat inklusivitas gereja di tengah masyarakat.
dc.language.iso Indonesia en_US
dc.publisher STT Amanat Agung en_US
dc.subject Gereja Etnik en_US
dc.subject Efektivitas en_US
dc.subject Eksklusivitas en_US
dc.title Gereja Etnik: Di antara Efektivitas dan Eksklusivitas en_US
dc.title.alternative Gereja bagi Semua
dc.type Book chapter en_US


Files in this item

This item appears in the following Collection(s)

  • Bab Buku
    Bab buku karya civitas academica STT Amanat Agung (Book chapters by STTAA community)

Show simple item record

Search DSpace


Advanced Search

Browse

My Account