<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Makalah</title>
<link>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/536</link>
<description>Makalah karya civitas academica STT Amanat Agung (Papers by STTAA community)</description>
<pubDate>Mon, 13 Apr 2026 17:17:25 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-13T17:17:25Z</dc:date>
<item>
<title>Seni dan Spiritualitas dalam Teologi Kristen</title>
<link>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/629</link>
<description>Seni dan Spiritualitas dalam Teologi Kristen
Casthelia Kartika
Dalam sebuah surat yang ditulis oleh Paus Yohanes II kepada para seniman dan seniwati, diungkapkan betapa dalam kaitan antara teologi, spiritualitas, gereja dan kesenian. Sebagai prinsip dasar mengawali percakapan menarik mengenai hubungan-hubungan tersebut, Paulus Yohanes II menjelaskan bahwa "keindahan" merupakan kata yang tepat untuk memadukan karya cipta Allah yang agung dengan seni yang menunjangnya. Ketika Allah memandang bahwa semua yang diciptakan-Nya itu baik adanya, maka istilah 'baik' itu sendiri sudah mencakup pengertian 'indah'. Terjemahan Yunani Septuaginta untuk istilah Ibrani טוב )baca: tob, yang berarti baik) dalam Kejadian 1:31 adalah καλά (baca: kala, dari kata dasar tunggal καλον, yang berarti indah). Kebaikan dan keindahan adalah konsep yang menyatu dalam pemaknaan utuh akan karya cipta Tuhan, dan hakikat ini kemudian muncul dalam panggilan agung manusia untuk memelihara karya cipta Allah itu.
</description>
<pubDate>Thu, 01 May 2014 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/629</guid>
<dc:date>2014-05-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Seni dalam Pelayanan Kaum muda</title>
<link>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/628</link>
<description>Seni dalam Pelayanan Kaum muda
Astri Sinaga
Seni dan kaum muda adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Berbagai bentuk seni mewarnai keseharian kaum muda bahkan mereka aktif terlibat di dalamnya. Musik, cerita dan visual secara silih berganti memasuki alam pikiran mereka yang disalurkan oleh kekuatan teknologi media. Sebuah penelitian mengatakan bahwa seorang pemuda menghabiskan waktu memperhatikan atau terlibat dengan teknologi media selama 6,5 jam setiap hari, yang di dalamnya sebagian besar berisi bentuk-bentuk seni seperti musik, cerita, dan visual. Mereka mendengarkan musik ketika berada di angkutan umum, di kamar, di mal, ataupun dalam kehidupan komunitas. Mereka menuliskan cerita mereka di berbagai media sosial, memperhatikan juga cerita orang lain dan berdialog dengan cerita itu, menulis jurnal pribadi dalam blog sebagai ekspresi dan aktualisasi diri. Kaum muda juga menuangkan pikiran dan ekspresi mereka dalam berbagai bentuk dan saluran yaitu media sosial, teknologi, bentuk-bentuk seni seperti musik, tari, olah tubuh, desain grafis, grafiti, dan lain-lain.
</description>
<pubDate>Thu, 01 May 2014 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/628</guid>
<dc:date>2014-05-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Kekuatan Kelompok Kecil sebagai Basis Pelayanan Kaum Muda</title>
<link>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/627</link>
<description>Kekuatan Kelompok Kecil sebagai Basis Pelayanan Kaum Muda
Casthelia Kartika
Pelayanan kaum muda merupakan sebuah bentuk pelayanan yang penting dan potensial. Bukan&#13;
hanya penting dan potensial, tetapi juga menjadi hal yang sangat serius. Karena demografi&#13;
pertumbuhan populasi dunia menunjukkan sepertiga penduduk dunia adalah orang-orang muda.&#13;
Populasi dunia telah mencapai 6 milyar menurut data tahun 1999. Dan itu berarti sekitar 2 milyar&#13;
penduduk dunia ini adalah orang muda di bawah usia 20 tahun.20 Mengingat besarnya ladang dan massa, maka tentu siapapun yang terlibat dalam pelayanan ini sudah seharusnya memiliki strategi&#13;
yang tepat dalam menjangkau dan mengembangkannya. Dalam sejarah pelayanan kaum muda, kelompok kecil merupakan metode/strategi pelayanan yang&#13;
cukup mendominasi. Bahkan secara umum sering dikatakan bahwa sepanjang sejarah pergerakan&#13;
pelayanan mahasiswa di berbagai belahan dunia, pemuridan dalam kelompok kecil selalu menjadi&#13;
motor penggerak dan merupakan ciri khusus. Demikian juga yang terjadi pada gereja. Secara umum&#13;
gereja pun melihat dan menyadari bahwa kelompok kecil merupakan pola pelayanan yang efektif,&#13;
bukan hanya berdampak pada pertumbuhan gereja secara kuantitas, tetapi juga meningkatkan&#13;
pertumbuhan jemaat secara kualitas, dalam hal ini tentunya terkait dengan pertumbuhan rohani.&#13;
Secara khusus terhadap pelayanan kaum muda di gereja, kelompok kecil menjadi metode yang&#13;
tepat untuk menerapkan nilai-nilai kehidupan Kristen, seperti persekutuan, pemuridan, penginjilan&#13;
dan pelayanan. Hal ini menyebabkan terjadinya pergeseran paradigma dan pemaknaan terhadap&#13;
kelompok kecil dalam pelayanan gereja. Kelompok kecil bukan hanya dilihat sebagai sebuah atau&#13;
salah satu program di antara begitu banyak program lain, tetapi sudah banyak gereja menetapkan&#13;
kelompok kecil sebagai wahana utama (primary means) yang tidak kalah penting dibandingkan&#13;
dengan pertemuan besar (large meeting). Demikian juga dengan parachurch yang bergerak dalam&#13;
pelayanan sekolah/kampus, sampai hari ini tidak pernah merasa bahwa strategi kelompok kecil&#13;
tidak lagi efektif dalam pelaksanaannya.
</description>
<pubDate>Mon, 01 Oct 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/627</guid>
<dc:date>2012-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Selayang Pandang Pelayanan Kaum Muda di Indonesia: Antara Kampus dan Gereja</title>
<link>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/626</link>
<description>Selayang Pandang Pelayanan Kaum Muda di Indonesia: Antara Kampus dan Gereja
Astri Sinaga
Mark Senter membuat sebuah catatan penelusuran yang menarik tentang perkembangan&#13;
pelayanan kaum muda di Amerika yang dikonstruksikannya dalam bentuk ’gelombang’ atau&#13;
revolusi. Tentunya Pelayanan kaum muda di Amerika memiliki sejarah yang sama sekali tidak&#13;
”muda” yaitu rentang waktu mulai dari tahun 1824 sampai era 1990 an dimana buku tersebut ditulis. Senter menjelaskan setiap gelombang dengan diwakili munculnya karya seni.1 Di revolusi&#13;
pertama Senter melihat kondisi jaman itu diwakili oleh novel The adventure of Tom Sawyer karya&#13;
Mark Twain yang kemudian lebih dikenal dalam film modern Huckelbery Finn - kisah petualangan&#13;
anak laki-laki di jaman revolusi industri di kota Missisipi. Lalu pada revolusi yang kedua ditandai&#13;
dengan munculnya komedi musik karya Meredith Wilson The Music Man,sedangkan revolusi ketiga&#13;
diwakili film musikal Grease. Akhir dari revolusi ketiga ini ditandai dengan munculnya film The&#13;
Breakfast Club. Mungkin kita tidak terlalu akrab dengan karya-karya seni tersebut, tapi umumnya&#13;
pembaca Amerika paham yang dimaksud Senter ketika ia menggunakan karya-karya seni tersebut.&#13;
Dalam karya seni tersebut tertuang realita kehidupan kaum muda yang ada di jaman yang berbeda&#13;
dan memiliki pergumulan yang berbeda.
</description>
<pubDate>Mon, 01 Oct 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/626</guid>
<dc:date>2012-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
