<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Bab Buku</title>
<link>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/533</link>
<description>Bab buku karya civitas academica STT Amanat Agung (Book chapters by STTAA community)</description>
<pubDate>Mon, 13 Apr 2026 17:07:21 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-13T17:07:21Z</dc:date>
<item>
<title>“… engkau akan ada ... di dalam Firdaus.”</title>
<link>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/755</link>
<description>“… engkau akan ada ... di dalam Firdaus.”
Dany Christopher
Ketika Alkitab mencatat suatu peristiwa atau pernyataan, maka catatan tersebut memiliki maksud tertentu bagi pembacanya. Pembaca belajar akan suatu kebenaran yang penting. Hal yang sama juga beriaku dalam percakapan antara Yesus dengan dua penjahat di kayu salib (Luk. 23:40-43). Ketika Lukas memasukkan percakapan tersebut. ada pelajaran iman yang ingin disampaikan kepada pembacanya. Dalam artikel ini kita akan belajar mengenai janji Yesus kepada salah satu penjahat (Luk. 23:43). Secara khusus kita akan berusaha memahami tiga hal: (1) Mengapa hanya salah satu penjahat yang menerima janji Yesus? (2) Apa maksud dari janji Yesus? (3) Mengapa perkataan Yesus tersebut dicatat, dengan kata lain, apa pesan teologis yang hendak disampaikan kepada kita sebagai pembaca? Kita akan mulai dengan menganalisis sikap kedua penjahat yang disalibkan terhadap Yesus.
</description>
<pubDate>Sun, 01 Jan 2023 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/755</guid>
<dc:date>2023-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Practicing Radical Hospitality in Indonesia</title>
<link>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/754</link>
<description>Practicing Radical Hospitality in Indonesia
Casthelia Kartika
It is commonly known that Indonesians are friendly people, reflected in their effortless smiles and greetings. Hospitality has likewise become a highly valued cultural characteristic, with a strong desire to make visitors feel at home. In interpersonal relationships, Indonesians are renowned for their willingness to assist one another. For Indonesian Christians, biblical teachings strengthen hospitable attitudes and behaviours. with the emphasis on love for God with heart, soul and mind and love for others as they love themselves (Matt 22:37-39). Even though human nature is characterised by a tendency toward self-love rather than love for others. Indonesian Christian people nevertheless have a great desire to sympathise with the hardships that other Indonesian community members endure. Indonesia's experience with the COVID-19 outbreak provided compelling evidence of this. Health, security, relationships and the economy were among the many facets of life that were decimated at the time by this pandemic.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/754</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Langit Baru Bumi Baru: Alam Semesta Turut Ditebus dari Perbudakan dan Kebinasaan</title>
<link>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/736</link>
<description>Langit Baru Bumi Baru: Alam Semesta Turut Ditebus dari Perbudakan dan Kebinasaan
Armand Barus
Krisis ekologis adalah masalah manusia terbesar abad ini. Krisis ekologis yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya menjadi ancaman keberlangsungan hidup manusia tidak hanya di dunia tetapi juga di Indonesia. Manusia memasuki masa dan tempat keberadaannya sebagai manusia tetapi mendapati kerusakan dan bencana ekologis. Krisis ekologis adalah krisis global yang terjadi akibat aktivitas manusia. Krisis ini menampakkan wujudnya berupa perubahan iklim (climate change) dan polusi air, udara dan tanah. Polusi air, udara, dan tanah disebabkan aktivitas manusia dalam bidang industri, pertanian dan transportasi. Per-ubahan iklim yang juga disebabkan aktivitas manusia menciptakan ancaman serius terhadap keberlangsungan hidup seluruh makhluk, termasuk manusia itu sendiri. Peningkatan konstan gas rumah kaca khususnya karbon dioksida sebagai hasil kegiatan manusia memengaruhi tingkat laju pemanasan global sehingga menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Dampaknya? Perubahan iklim membawa beberapa akibat seperti cuaca ekstrem, kekeringan, mencairnya es di kutub, hi-langnya keragaman hayati (biodiversity). Krisis ekologis yang diciptakan manusia itu sendiri membawa dampak terhadap kehidupan manusia, khususnya dalam hal ketahanan pangan dan kesehatan. Krisis ini bahkan diperkirakan akan menyebabkan terjadinya migrasi manusia. Misalnya, kenaikan permukaan air laut akan menyebabkan penduduk negara Maldives harus pindah meninggalkan negaranya. Krisis ekologis tidak hanya mengakibatkan terganggunya ketahanan pangan, kesehatan dan terjadinya migrasi manusia tetapi juga menciptakan ketakutan global. Manusia masa kini hidup dalam cengkeraman ketakutan akan terjadinya bencana ekologis yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Apakah akar penyebabnya? Apakah hakikat krisis ekologis? Perkembangan ekonomi dan industri serta transportasi sering dituding menjadi penyebab terjadinya krisis ekologis. Benarkah? Pada tahun 1967 Lynn White menulis artikel berjudul "Historical Roots of Our Ecologic Crisis". White mengungkapkan bahwa krisis ekologis bukan soal ekonomi atau industri. Krisis ekologis, kata Lynn White, adalah masalah teologi. Orang Kristen keliru memberi tafsiran terhadap Kejadian 1:28 sehingga menyebabkan timbulnya pengertian superioritas manusia ter-hadap alam semesta. Akibatnya? Manusia kemudian mengeksploitasi alam untuk kepentingan dirinya sendiri. Krisis ekologis yang dikatakan Lynn White terjadi di Barat Bagaimana dengan di Timur?
</description>
<pubDate>Tue, 01 Jan 2019 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/736</guid>
<dc:date>2019-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Hermeneutika Pneumatik</title>
<link>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/728</link>
<description>Hermeneutika Pneumatik
Armand Barus
Artikel berikut merupakan upaya sederhana untuk terlibat dalam diskusi tentang peran Roh Kudus dalam penafsiran Alkitab. Bila penafsir Alkitab menggunakan metode penafsiran^ teks Alkitab, masihkah kita dapat mengklaim Roh Kudus terlibat dalam proses pemberian makna itu? Bukankah penggunaan metode penafsiran menjadikan Roh Kudus tidak berperan dalam proses penafsiran? Di lain pihak, sebagian kalangan Kristen menolak menggunakan metode penafsiran Alkitab dan hanya bergantung kepada iluminasi Roh Kudus dalam pembacaan Alkitab. Tindakan ini dilakukan sebagai wujud ketergantungan penuh terhadap peran Roh Kudus dalam proses penafsiran Alkitab. Bagaimana kita dapat memberi penjelasan keterlibatan Roh Kudus dan pembaca Alkitab dalam proses penafsiran? Mungkinkah kita sekarang membuka jalan baru yang berjalan di antara kedua jalan yang disebut di atas? Artikel ini, sebagai jawabannya, mengusulkan paradigma kontekstual dalam hermeneutika pneumatik.
</description>
<pubDate>Fri, 01 Nov 2024 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/728</guid>
<dc:date>2024-11-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
