<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Tesis</title>
<link>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/4</link>
<description>Tesis Mahasiswa STT Amanat Agung (Graduate theses by STTAA students)</description>
<pubDate>Wed, 04 Nov 2026 22:53:21 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-11-04T22:53:21Z</dc:date>
<item>
<title>Pengalaman Jemaat Lansia dalam Menerima Visitasi di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pekanbaru: Sebuah Respons Pastoral</title>
<link>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/803</link>
<description>Pengalaman Jemaat Lansia dalam Menerima Visitasi di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pekanbaru: Sebuah Respons Pastoral
Lusia
Penelitian ini bertujuan memahami pengalaman jemaat lanjut usia dalam menerima pelayanan visitasi di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pekanbaru, mengkaji dasar teologis pelayanan visitasi, serta merumuskan respons pastoral yang relevan dan kontekstual berdasarkan pengalaman tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dalam kerangka Teologi Praktika Richard R. Osmer. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap enam jemaat lanjut usia yang dipilih secara purposif dengan mempertimbangkan keragaman kondisi kehidupan mereka. Analisis dilakukan untuk memahami pengalaman dan pemaknaan partisipan terhadap kehadiran pastoral dalam pelayanan visitasi. Hasil penelitian menunjukkan empat temuan utama. Pertama, kondisi kehidupan yang beragam membentuk kebutuhan partisipan akan kehadiran visitasi. Kedua, kepastian dan kesesuaian pola komunikasi memengaruhi kenyamanan partisipan selama kunjungan. Ketiga, kehadiran tim visitasi dapat mengubah suasana emosional partisipan dari kecemasan menuju ketenangan. Keempat, visitasi menjadi ruang penguatan spiritual dan peneguhan peran partisipan dalam kehidupan bergereja. Temuan tersebut menunjukkan bahwa makna pelayanan visitasi tidak terutama ditentukan oleh frekuensi kunjungan, melainkan oleh kualitas kehadiran gereja yang peka terhadap konteks kehidupan setiap lansia. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merumuskan respons pastoral yang menekankan priestly listening, keberlanjutan pendampingan, kejelasan komunikasi, konsistensi pelaksanaan kunjungan, serta pelibatan lansia dalam kehidupan persekutuan. Penelitian ini menegaskan pentingnya kehadiran pastoral yang personal, relasional, kontekstual, dan inkarnasional dalam pelayanan kepada jemaat lanjut usia.
</description>
<pubDate>Wed, 09 Sep 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/803</guid>
<dc:date>2026-09-09T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Distorsi Teologis Persembahan: Sebuah Refleksi Teologis terhadap Pengalaman Jemaat dalam Memberi Persembahan di Gereja Masehi Musafir Indonesia Jemaat Ayalon Oeli'i</title>
<link>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/802</link>
<description>Distorsi Teologis Persembahan: Sebuah Refleksi Teologis terhadap Pengalaman Jemaat dalam Memberi Persembahan di Gereja Masehi Musafir Indonesia Jemaat Ayalon Oeli'i
Erich Anderias Olbata
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keberagaman pemaknaan jemaat atas praktik memberi persembahan di Gereja Masehi Musafir Indonesia (GMMI) Jemaat Ayalon Oeli’i, Nusa Tenggara Timur (NTT). Keberagaman ini memunculkan persoalan yang lebih mendasar daripada sekedar praktis, yakni belum adanya landasan teologis yang baku mengenai hakikat serta tujuan dari praktik persembahan, yang pada akhirnya membuka ruang bercampurnya pemahaman jemaat dengan nilai-nilai budaya komunal, yang berpotensi mengalami distorsi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan merefleksikan secara teologis pengalaman jemaat dalam memberi persembahan, agar praktik persembahan dapat sesuai dengan esensinya sebagai respons atas anugerah Kristus. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) dari Smith, Flowers, dan Larkin, yang diintegrasikan dengan kerangka teologi praktika dari Swinton dan Mowat serta fenomenologi deskriptif dari Creswell dan Poth, melalui wawancara mendalam terhadap lima partisipan. Hasil penelitian menemukan empat Group Experiential Themes (GETs) yakni, persembahan sebagai ungkapan syukur sekaligus kewajiban, Persembahan sebagai ungkapan syukur dan kewajiban, Memberi persembahan karena didasari tekanan sosial dan takut akan penilaian orang, Pengalaman memberi persembahan nazar dan iuran dengan berutang, Pengaruh budaya komunal dalam praktik memberi persembahan. Peneliti merumuskan pembaruan praktis melalui transformasi semangat gotong royong menjadi koinonia yang berfokus pada syukur, tanpa menghapus nilai kekeluargaan jemaat.
</description>
<pubDate>Thu, 17 Sep 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/802</guid>
<dc:date>2026-09-17T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Kajian terhadap Fenomena Politisasi Agama dalam Perpolitikan di Indonesia dari Perspektif Libido Dominandi Agustinus</title>
<link>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/801</link>
<description>Kajian terhadap Fenomena Politisasi Agama dalam Perpolitikan di Indonesia dari Perspektif Libido Dominandi Agustinus
Theofilus Soleman
Penelitian ini bertujuan menganalisis fenomena politisasi agama dalam politik elektoral di Indonesia pasca Reformasi dari perspektif libido dominandi Augustinus. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya kajian mengenai politisasi agama yang umumnya menggunakan pendekatan ilmu sosial dan politik. Pendekatan tersebut memang memberikan kontribusi penting dalam memahami gejala yang tampak di permukaan, tetapi sering kali belum menyentuh dimensi yang lebih mendasar terkait motivasi manusia. Dalam konteks ini, pemikiran Augustinus mengenai libido dominandi menjadi relevan dan signifikan. Penelitian ini berfokus pada konsep libido dominandi dalam teologi politik Augustinus, khususnya dalam kritiknya terhadap Roma. Kritik tersebut menunjukkan bahwa praktik politik Roma yang menggunakan agama demi kekuasaan dibaca sebagai manifestasi dari libido dominandi. Indikator-indikator tersebut kemudian digunakan sebagai alat analisis untuk menilai fenomena politisasi agama dalam politik elektoral Indonesia pasca Reformasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan politisasi agama dalam politik elektoral di Indonesia pasca Reformasi memperlihatkan indikator-indikator libido dominandi dalam teologi politik Augustinus. Dengan demikian, fenomena politisasi agama dalam politik elektoral di Indonesia pasca Reformasi dapat dibaca sebagai manifestasi libido dominandi.
</description>
<pubDate>Mon, 18 May 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/801</guid>
<dc:date>2026-05-18T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengalaman Panggilan Melayani Kaum Muda: Studi Fenomenologis Teologi Praktika pada Mahasiswa Sarjana Teologi Konsentrasi Pelayanan Pemuda di Sekolah Tinggi Teologi Tenggarong</title>
<link>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/800</link>
<description>Pengalaman Panggilan Melayani Kaum Muda: Studi Fenomenologis Teologi Praktika pada Mahasiswa Sarjana Teologi Konsentrasi Pelayanan Pemuda di Sekolah Tinggi Teologi Tenggarong
Tommy Wijaya Eka Setiawan
Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman panggilan melayani kaum muda pada mahasiswa Sarjana Teologi konsentrasi Pelayanan Pemuda di Sekolah Tinggi Teologi Tenggarong serta membangun refleksi teologis mengenai panggilan pelayanan kaum muda. Penelitian ini menggunakan metode teologi praktika dengan pendekatan fenomenologis melalui wawancara kepada tujuh narasumber mahasiswa dan alumni Konsentrasi Pelayanan Pemuda (KPP). Data dianalisis melalui pendekatan fenomenologis dan teologis berdasarkan pendekatan John Swinton dan Harriet Mowat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panggilan melayani kaum muda dipahami sebagai pengalaman personal yang dibentuk melalui pengalaman hidup, relasi, komunitas, dan keterlibatan pelayanan di tengah krisis kaum muda yang direspon dengan perasaan empatik. Dari temuan tersebut dirumuskan tiga refleksi teologis, yaitu panggilan sebagai inisiatif Allah yang dialami secara personal, panggilan sebagai proses formasi rohani dalam komunitas dan relasi, serta panggilan sebagai respons terhadap realitas krisis sebagai bagian dari misi Allah. Penelitian ini menekankan pentingnya pembentukan calon pelayan kaum muda yang bersifat spiritual-reflektif, relasional, kontekstual, dan missional dalam proses pembinaan di STT Tenggarong.
</description>
<pubDate>Tue, 26 May 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/800</guid>
<dc:date>2026-05-26T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
