<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Repositori STT Amanat Agung</title>
<link>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/1</link>
<description>Repositori STT Amanat Agung, Jakarta</description>
<pubDate>Mon, 13 Apr 2026 17:01:57 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-13T17:01:57Z</dc:date>
<image>
<title>Repositori STT Amanat Agung</title>
<url>http://159.65.2.74:8080/xmlui/bitstream/id/edc0aad7-b46e-45e1-a8e2-ad95b11d53fb/</url>
<link>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/1</link>
</image>
<item>
<title>Ekoteologi dan Ekopraksis Kaum Muda: Aksi Kaum Muda dalam Penatalayanan Lingkungan</title>
<link>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/764</link>
<description>Ekoteologi dan Ekopraksis Kaum Muda: Aksi Kaum Muda dalam Penatalayanan Lingkungan
Lauren’s; William Levi Josh Garry Rompis Muhaling
Artikel ini merupakan sebuah upaya konstruksi ekoteologi dan ekopraksis bagi kaum muda Kristen untuk meresponi krisis lingkungan global yang semakin meningkat. Setelah membahas akar penyebab krisis lingkungan yang terjadi, seperti antroposentrisme yang keliru, tantangan konsumerisme, dan pola pikir homo economicus yang dihadapi kaum muda saat ini, artikel ini menelaah teks-teks Alkitab, khususnya narasi penciptaan dan konsep Imago Dei, untuk mengkonstruksi pemahaman ekoteologi. Ekoteologi yang dihasilkan ini menegaskan kembali peran manusia, termasuk kaum muda, sebagai penatalayan lingkungan. Selanjutnya, artikel ini menawarkan inisiatif ekopraktis yang diimplementasikan melalui gereja dan program kaum muda, meliputi pendidikan lingkungan, kampanye go-green, praktik gaya hidup berkelanjutan, dan program pelayanan terintegrasi, untuk memberdayakan kaum muda memenuhi mandat ilahi mereka sebagai penatalayan lingkungan ciptaan Tuhan.
</description>
<pubDate>Mon, 01 Dec 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/764</guid>
<dc:date>2025-12-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Khotbah Sebagai Sarana Pemulihan: Pendekatan Pastoral Pasca Trauma Pada Korban Pelecehan Seksual</title>
<link>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/763</link>
<description>Khotbah Sebagai Sarana Pemulihan: Pendekatan Pastoral Pasca Trauma Pada Korban Pelecehan Seksual
Karin Bilbina; Kezia Manullang; Sriwahyuni Zega
Pelecehan seksual merupakan persoalan sosial serius yang menimbulkan dampak fisik, &#13;
psikologis, dan spiritual. Gereja dipanngil untuk terlibat dalam pemulihan korban melalui &#13;
pelayanan pastoral yang memulihkan. Penelitian ini bertujuan menelaah khotbah sebagai &#13;
sarana pastoral yang dapat membantu penyintas trauma akibat pelecehan seksual. Dengan &#13;
menggunakan metode kualitatif melalui studi literatur, penelitian ini menganalisis konsep &#13;
khotbah dan prinsip khotbah dalam konteks pelayanan gereja. Hasil penelitian menunjukkan &#13;
bahwa khotbah yang peka terhadap trauma dapat menjadi media penyembuhan rohani, &#13;
menciptakan ruang aman, serta meneguhkan identitas korban sebagai pribadi yang dikasihi &#13;
Allah. Dengan demikian, khotbah tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengajaran iman, &#13;
tetapi juga sebagai tindakan pastoral yang menghadirkan kasih dan pemulihan Allah bagi &#13;
mereka yang terluka.
</description>
<pubDate>Sat, 01 Nov 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/763</guid>
<dc:date>2025-11-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Kaum Muda yang Terbentur dan Terbentuk: Refleksi Teologis tentang Pentingnya Komunitas dalam Film “Bolehkah Sekali Saja Kumenangis”</title>
<link>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/762</link>
<description>Kaum Muda yang Terbentur dan Terbentuk: Refleksi Teologis tentang Pentingnya Komunitas dalam Film “Bolehkah Sekali Saja Kumenangis”
Vernanda Helsa; Ronie Tama Petra Kharitoo Barasa; Sara Juliana Kodongan
Film “Bolehkah Sekali Saja Kumenangis” merepresentasikan realitas kaum muda dengan tekanan mental dan trauma akibat relasi keluarga disfungsional. Penelitian ini menggunakan pendekatan naratif-reflektif untuk menganalisis dampak luka batin dan kekerasan dalam rumah tangga terhadap kesehatan mental, seperti trauma dan kecemasan. Fokus utama adalah perjalanan emosional tokoh Tari menuju pemulihan setelah bergabung dengan komunitas pendukung Life Mates, yang berfungsi sebagai ruang aman, terbuka, dan inspiratif yang memfasilitasi proses penyembuhan kolektif. Secara teologis, tulisan ini merefleksikan panggilan komunitas Kristen untuk menjadi tubuh Kristus yang merangkul dan melayani kaum muda yang terluka. Dengan merujuk pada pemikiran teolog seperti Catherine Doherty dan Ed Loring, Jürgen Moltmann, serta Roy Hession, artikel ini menegaskan urgensi membangun komunitas gereja yang inklusif dan suportif. Oleh karena itu, penulis mengajak gereja untuk mengembangkan kelompok pendukung dan budaya tanpa menghakimi guna mengatasi pergumulan kesehatan mental dan spiritual kaum muda.
</description>
<pubDate>Sun, 01 Dec 2024 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/762</guid>
<dc:date>2024-12-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pauline Preaching and the Formation of Christian Ethics: Reframing Homiletics through Imitatio Christi</title>
<link>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/761</link>
<description>Pauline Preaching and the Formation of Christian Ethics: Reframing Homiletics through Imitatio Christi
Yeremia Yordani Putra; Yohanes Krismantyo Susanta
Preaching has always been central to the life of the church, yet its ethical dimension has often been neglected in homiletical discourse. Responding to this gap, this article examines Paul’s preaching as a paradigm for reframing homiletics through the integration of gospel proclamation and ethical formation. By means of a literature-based study, the paper highlights how Paul inseparably binds the gospel to the ethical life of believers, grounding communal identity in the story of Christ. In this framework, imitatio Christi functions not merely as moral imitation but as transformative participation in the cruciform existence of Christ. Thus, Pauline preaching demonstrates that homiletics is both kerygmatic and formative: it proclaims the gospel while shaping believers into Christlike communities. This perspective offers fresh implications for contemporary preaching by reclaiming the ethical dimension as integral to the ministry of the Word.
</description>
<pubDate>Sun, 01 Feb 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/761</guid>
<dc:date>2026-02-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
