<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Artikel Jurnal</title>
<link href="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/6" rel="alternate"/>
<subtitle>Artikel Jurnal karya civitas academica STT Amanat Agung (Journal articles by STTAA community)</subtitle>
<id>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/6</id>
<updated>2026-04-13T17:07:59Z</updated>
<dc:date>2026-04-13T17:07:59Z</dc:date>
<entry>
<title>Khotbah Sebagai Sarana Pemulihan: Pendekatan Pastoral Pasca Trauma Pada Korban Pelecehan Seksual</title>
<link href="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/763" rel="alternate"/>
<author>
<name>Karin Bilbina</name>
</author>
<author>
<name>Kezia Manullang</name>
</author>
<author>
<name>Sriwahyuni Zega</name>
</author>
<id>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/763</id>
<updated>2026-04-01T07:36:37Z</updated>
<published>2025-11-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Khotbah Sebagai Sarana Pemulihan: Pendekatan Pastoral Pasca Trauma Pada Korban Pelecehan Seksual
Karin Bilbina; Kezia Manullang; Sriwahyuni Zega
Pelecehan seksual merupakan persoalan sosial serius yang menimbulkan dampak fisik, &#13;
psikologis, dan spiritual. Gereja dipanngil untuk terlibat dalam pemulihan korban melalui &#13;
pelayanan pastoral yang memulihkan. Penelitian ini bertujuan menelaah khotbah sebagai &#13;
sarana pastoral yang dapat membantu penyintas trauma akibat pelecehan seksual. Dengan &#13;
menggunakan metode kualitatif melalui studi literatur, penelitian ini menganalisis konsep &#13;
khotbah dan prinsip khotbah dalam konteks pelayanan gereja. Hasil penelitian menunjukkan &#13;
bahwa khotbah yang peka terhadap trauma dapat menjadi media penyembuhan rohani, &#13;
menciptakan ruang aman, serta meneguhkan identitas korban sebagai pribadi yang dikasihi &#13;
Allah. Dengan demikian, khotbah tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengajaran iman, &#13;
tetapi juga sebagai tindakan pastoral yang menghadirkan kasih dan pemulihan Allah bagi &#13;
mereka yang terluka.
</summary>
<dc:date>2025-11-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Kaum Muda yang Terbentur dan Terbentuk: Refleksi Teologis tentang Pentingnya Komunitas dalam Film “Bolehkah Sekali Saja Kumenangis”</title>
<link href="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/762" rel="alternate"/>
<author>
<name>Vernanda Helsa</name>
</author>
<author>
<name>Ronie Tama Petra Kharitoo Barasa</name>
</author>
<author>
<name>Sara Juliana Kodongan</name>
</author>
<id>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/762</id>
<updated>2026-04-01T07:23:58Z</updated>
<published>2024-12-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Kaum Muda yang Terbentur dan Terbentuk: Refleksi Teologis tentang Pentingnya Komunitas dalam Film “Bolehkah Sekali Saja Kumenangis”
Vernanda Helsa; Ronie Tama Petra Kharitoo Barasa; Sara Juliana Kodongan
Film “Bolehkah Sekali Saja Kumenangis” merepresentasikan realitas kaum muda dengan tekanan mental dan trauma akibat relasi keluarga disfungsional. Penelitian ini menggunakan pendekatan naratif-reflektif untuk menganalisis dampak luka batin dan kekerasan dalam rumah tangga terhadap kesehatan mental, seperti trauma dan kecemasan. Fokus utama adalah perjalanan emosional tokoh Tari menuju pemulihan setelah bergabung dengan komunitas pendukung Life Mates, yang berfungsi sebagai ruang aman, terbuka, dan inspiratif yang memfasilitasi proses penyembuhan kolektif. Secara teologis, tulisan ini merefleksikan panggilan komunitas Kristen untuk menjadi tubuh Kristus yang merangkul dan melayani kaum muda yang terluka. Dengan merujuk pada pemikiran teolog seperti Catherine Doherty dan Ed Loring, Jürgen Moltmann, serta Roy Hession, artikel ini menegaskan urgensi membangun komunitas gereja yang inklusif dan suportif. Oleh karena itu, penulis mengajak gereja untuk mengembangkan kelompok pendukung dan budaya tanpa menghakimi guna mengatasi pergumulan kesehatan mental dan spiritual kaum muda.
</summary>
<dc:date>2024-12-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pauline Preaching and the Formation of Christian Ethics: Reframing Homiletics through Imitatio Christi</title>
<link href="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/761" rel="alternate"/>
<author>
<name>Yeremia Yordani Putra</name>
</author>
<author>
<name>Yohanes Krismantyo Susanta</name>
</author>
<id>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/761</id>
<updated>2026-03-25T06:55:00Z</updated>
<published>2026-02-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pauline Preaching and the Formation of Christian Ethics: Reframing Homiletics through Imitatio Christi
Yeremia Yordani Putra; Yohanes Krismantyo Susanta
Preaching has always been central to the life of the church, yet its ethical dimension has often been neglected in homiletical discourse. Responding to this gap, this article examines Paul’s preaching as a paradigm for reframing homiletics through the integration of gospel proclamation and ethical formation. By means of a literature-based study, the paper highlights how Paul inseparably binds the gospel to the ethical life of believers, grounding communal identity in the story of Christ. In this framework, imitatio Christi functions not merely as moral imitation but as transformative participation in the cruciform existence of Christ. Thus, Pauline preaching demonstrates that homiletics is both kerygmatic and formative: it proclaims the gospel while shaping believers into Christlike communities. This perspective offers fresh implications for contemporary preaching by reclaiming the ethical dimension as integral to the ministry of the Word.
</summary>
<dc:date>2026-02-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>ATEISME: Penelitian Puitis-Afektif Mazmur 14</title>
<link href="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/760" rel="alternate"/>
<author>
<name>Armand Barus</name>
</author>
<id>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/760</id>
<updated>2026-03-23T08:39:39Z</updated>
<published>2025-12-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">ATEISME: Penelitian Puitis-Afektif Mazmur 14
Armand Barus
Angka tren ateisme yang cenderung meningkat akhir-akhir ini memerlukan penjelasan dan respons teologis yang memadai. Artikel ini mengusulkan Mazmur 14 sebagai salah satu respons teologis terhadap ateisme. Telaah terhadap Mazmur 14 sebagai respons terhadap ateisme menggunakan metode penelitian puitis-afektif. Metode penelitian puitis-afektif memiliki fitur-fitur keluhan, perasaan, Allah, dan perubahan suasana teks (mood) dalam penggalian tema sentral Mazmur 14. Penelitian puitis-afektif menghasilkan ateisme yang terdapat dalam Mazmur 14 menggambarkan dua keadaan manusia yaitu manusia yang percaya tidak ada YHWH dan manusia tanpa kepercayaan kepada ’ĕlōhîm. Mazmur 14 menegaskan keterkaitan erat apa yang dipercayai dan apa yang dilakukan. Ateisme modern sebaliknya menolak kaitan teologi dan etika.
</summary>
<dc:date>2025-12-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
