<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Bab Buku</title>
<link href="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/533" rel="alternate"/>
<subtitle>Bab buku karya civitas academica STT Amanat Agung (Book chapters by STTAA community)</subtitle>
<id>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/533</id>
<updated>2026-06-12T18:21:10Z</updated>
<dc:date>2026-06-12T18:21:10Z</dc:date>
<entry>
<title>Yohanes dan Antikristus</title>
<link href="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/770" rel="alternate"/>
<author>
<name>Jonly Joihin</name>
</author>
<id>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/770</id>
<updated>2026-04-21T06:29:07Z</updated>
<published>2026-03-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Yohanes dan Antikristus
Jonly Joihin
Ditinjau dari sudut bahasa, istilah "antikristus" sebenarnya memiliki makna yang sederhana. Kata "antikristus" adalah kata majemuk, bentukan dari kata benda "Kristus", yang merujuk pada Yesus Kristus, dan awalan bentuk terikat "anti-" yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi VI berarti "menentang, melawan, memusuhi." Jadi, secara ringkas antikristus dapat diartikan sebagai, "menentang Kristus", "melawan Kristus", atau "memusuhi Kristus". Namun, pada kenyataannya, pemahaman tentang apa atau siapa yang disebut antikristus di dalam Alkitab tidak sesederhana itu bagi orang Kristen dalam sejarah. Banyak pandangan telah dikemukakan. Pandangan-pandangan ini tidak jarang menimbulkan kebingungan dan bahkan keresahan di antara orang Kristen. Jadi, apa atau siapa antikristus itu? Apa yang dimaksud dengan antikristus dalam Alkitab, secara khusus menurut Yohanes dalam surat-suratnya? Sebelum melakukan penggalian terhadap makna antikristus dalam Alkitab, ada baiknya kita melihat terlebih dahulu berbagai pandangan yang pernah muncul dalam sejarah tentang apa atau siapa antikristus itu.
</summary>
<dc:date>2026-03-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Paulus dan Konflik Gereja</title>
<link href="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/769" rel="alternate"/>
<author>
<name>Surif</name>
</author>
<id>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/769</id>
<updated>2026-04-21T06:26:07Z</updated>
<published>2026-03-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Paulus dan Konflik Gereja
Surif
Konflik sangat melekat dalam kehidupan kita sebagai manusia. Ini dapat terjadi di antara anggota keluarga, sahabat, tetangga, rekan kerja, suku bangsa bahkan negara. Gereja sebagai suatu komunitas ternyata juga tidak kebal dari konflik. Konflik dapat terjadi di antara anggota gereja, antara anggota dan pemimpin gereja, hingga antara para pemimpin gereja. Bagaimanapun bentuknya dan siapa pun yang terlibat, konflik akan melemahkan gereja. Oleh sebab itu, konflik perlu diselesaikan dengan baik. Tulisan ini mencoba mengupas satu prinsip penting dalam penanganan konflik gereja. Prinsip ini diangkat dari Alkitab. Perjanjian Baru memperlihatkan bahwa konflik sudah terjadi sejak awal gereja didirikan. Dalam perjalanan ke Yerusalem, murid-murid Yesus bertengkar memperebutkan posisi tertinggi di antara mereka (Mrk. 10:35-45; Luk. 9:46-48; Mat. 20:20-28). Gereja mula-mula di Yerusalem yang sedang berkembang pesat mengalami konflik berkenaan pelayanan diakonia (Kis. 6). Beberapa surat Paulus, seperti Filipi, 1 Korintus, dan Roma, ternyata ditulis untuk menangani konflik gereja. Berkenaan dengan hal ini, tulisan ini menyoroti bagaimana Paulus menangani konflik dalam gereja-gereja tersebut melalui surat-suratnya. Pembahasan difokuskan pada Injil Yesus Kristus. Umat Kristen biasanya memahami Injil ini sebagai obyek iman yang menjadi dasar keselamatan sebagaimana yang dinyatakan dalam Roma 1:16: "Sebab, aku tidak malu terhadap Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani." Ini tentu saja kepercayaan kita sebagai umat Kristen. Namun demikian, kita sering kali melupakan bahwa Paulus juga menjadikan Injil Yesus Kristus sebagai prinsip hidup umat Kristen sebagaimana kesaksiannya di Galatia 2:19-20: "Sebab, aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus. Namun, aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku." Berangkat dari ini, tulisan ini menyoroti bagaimana Paulus memakai Injil Yesus Kristus dalam penanganan konflik gereja dalam surat-suratnya. Pembahasan dimulai dari surat Filipi karena surat ini menampilkan konten Injil Kristus secara lebih komprehensif.
</summary>
<dc:date>2026-03-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Amos dan Ibadah</title>
<link href="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/768" rel="alternate"/>
<author>
<name>Armand Barus</name>
</author>
<id>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/768</id>
<updated>2026-04-21T05:05:01Z</updated>
<published>2026-03-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Amos dan Ibadah
Armand Barus
Ibadah adalah kegiatan paling sentral dan tak tergantikan dalam kehidupan gereja Kristen. Ibadah merupakan aktivitas yang tidak dapat digantikan oleh kegiatan apa pun di gereja, sebab hanya ibadah yang bersumber dari dan berlanjut ke dalam kekekalan (bdk. Why. 4-5). Ibadah adalah poros utama gereja dalam pendewasaan iman jemaat dan pemeliharaan iman jemaat Kristen. Ringkasnya, tidak ada kegiatan gereja yang sanggup menggantikan ibadah. Ibadah pada umumnya dipahami sebagai respons kepada Allah. Namun, David Peterson menegaskan bahwa respons tersebut harus dipahami dari sudut pandang Allah. Kita tidak dapat begitu saja memberi respons kepada Allah dalam ibadah. Alkitab mengajar bahwa Allah terlebih dahulu menarik kita ke dalam relasi dengan-Nya sebelum kita mampu memberi respons dalam cara yang dapat diterima-Nya. Dalam pengertian seperti itu, Peterson merumuskan ibadah sebagai "an engagement with him on the terms that he proposes and in the way that he alone makes possible." (Artinya: suatu keterlibatan dengan Allah sesuai dengan syarat-syarat yang ditetapkan-Nya dan dengan cara yang hanya Allah sendiri membuat mungkin terjadi). Ibadah Kristen adalah respons manusia kepada Allah menurut cara yang ditentukan oleh Allah sendiri. Artikel ini tidak berpretensi untuk mengevaluasi atau mengusulkan definisi baru tentang ibadah. Pokok perhatian artikel diarahkan pada relasi antara ibadah dan keadilan (justice). Mengapa kita perlu menelusuri hubungan ibadah dan keadilan? Tampaknya dimensi keadilan dalam ibadah belum memperoleh perhatian yang layak dari gereja Kristen masa kini. Ibadah dan keadilan dipandang tidak berkaitan. Pengamatan serupa dikemukakan Mark Labberton dalam bukunya The Dangerous Act of Worship ketika ia menulis "our worship practices are separated from our call to justice." (Artinya: praktik ibadah kita terpisah dari panggilan kepada keadilan). Keprihatinan yang ingin ditegaskan melalui artikel ini ialah renggangnya hubungan antara ibadah dan keadilan. Benarkah tidak ada keterkaitan antara ibadah dan keadilan?
</summary>
<dc:date>2026-03-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Elia dan Kesehatan Mental</title>
<link href="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/767" rel="alternate"/>
<author>
<name>Dany Christopher</name>
</author>
<id>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/767</id>
<updated>2026-04-21T04:58:32Z</updated>
<published>2026-03-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Elia dan Kesehatan Mental
Dany Christopher
Saat ini kesehatan mental merupakan topik yang banyak diangkat ke permukaan. Data Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa satu dari delapan orang di dunia mengalami gangguan kesehatan mental (mental disorder). Di Indonesia sendiri satu dari sepuluh orang (10%) dilaporkan mengalami gangguan kesehatan mental. Banyaknya isu terkait kesehatan mental mendorong WHO membuat pernyataan yang cukup keras: "Business as usual for mental health simply will not do." Kondisi kesehatan mental saat ini perlu ditanggapi dengan serius, inovatif, dan dari berbagai perspektif. Dari sisi Kristen, penelitian yang banyak dilakukan adalah penelitian dari perspektif praktika, seperti pastoral atau konseling Kristen. Sedikit sekali yang mengangkat dan menganalisis dari perspektif biblika atau melalui dialog yang mendalam dengan teks Alkitab. Meskipun Alkitab tidak secara eksplisit berbicara mengenai kesehatan mental, ada beberapa teks dan kisah yang mengangkat isu dan topik yang sangat dekat dengan apa yang sekarang kita sebut sebagai isu kesehatan mental. Salah satu kisah Alkitab yang sarat dengan isu kesehatan mental adalah kisah Nabi Elia, khususnya dalam 1 Raja-Raja 19. Elia baru saja mengalami 'kesuksesan' dalam pelayanannya, di mana, melalui peristiwa supranatural, ia membuktikan kepada umat Israel bahwa YHWH adalah Tuhan yang sejati. Ditambah lagi, setelah itu hujan turun di Israel. Padahal sebelumnya selama tiga tahun, sebagai tanda hukuman Tuhan, hujan tidak turun. Ini menjadi penutup kisah yang baik-seharusnya. Kenyataannya tidak demikian. Kondisi rohani dan mental Elia mengalami spiralling down. Elia justru makin lama makin terpuruk. Apa sebenarnya yang ia alami-khususnya terkait konteks kesehatan mental? Mengapa Elia bisa mengalami hal demikian? Bagaimana Allah berespons pada kondisi Elia? Tiga pertanyaan ini yang akan kita pelajari. Sedikit disclaimer sebelum kita lanjut. Secara khusus kita akan memperhatikan deskripsi karakter Elia terkait fenonema kesehatan mentalnya. Dengan kata lain, tujuan penulis bukan untuk melakukan diagnosis klinis atau membuat tegak diagnosis mengenai kondisi psikologis Elia karena hal ini tidaklah mungkin dan berada di luar ranah studi biblika. Yang akan kita lakukan adalah memperhatikan dan memperlihatkan kemiripan antara deskripsi narasi Elia dengan deskripsi gejala permasalahan kesehatan mental. Kemudian kita akan menganalisis bagaimana respons Allah terhadap kondisi Elia tersebut. Namun, sebelum kita menggali teks 1 Raja-Raja 19, kita perlu terlebih dahulu memahami sedikit mengenai konsep kesehatan mental.
</summary>
<dc:date>2026-03-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
