<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Skripsi</title>
<link href="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/2" rel="alternate"/>
<subtitle>Skripsi Mahasiswa STT Amanat Agung (Undergraduate theses by STTAA students)</subtitle>
<id>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/2</id>
<updated>2026-04-13T17:17:26Z</updated>
<dc:date>2026-04-13T17:17:26Z</dc:date>
<entry>
<title>Tinjauan Teologis terhadap Konsep Kepemimpinan dalam Konfusianisme</title>
<link href="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/753" rel="alternate"/>
<author>
<name>Vernanda Helsa</name>
</author>
<id>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/753</id>
<updated>2026-03-12T01:35:06Z</updated>
<published>2025-12-08T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Tinjauan Teologis terhadap Konsep Kepemimpinan dalam Konfusianisme
Vernanda Helsa
Konfusianisme memiliki pengaruh signifikan dalam pembentukan pola pikir &#13;
dan praktik kepemimpinan masyarakt Tionghoa. Dari pemikiran ini lahir &#13;
model kepemimpinan paternalistik yang menekankan otoritas pemimpin, &#13;
nilai perikemanusiaan, serta integritas moral. Melalui studi literatur, &#13;
penelitian ini meninjau tiga konsep kepemimpinan yang berakar dalam &#13;
Konfusianisme—tujuan mencapai keharmonisan dan kemakmuran, prinsip &#13;
perikemanusiaan ketika memimpin, dan etos senantiasa mengembangkan &#13;
diri—dan meninjaunya dari perspektif teologi Kristen. Hasil kajian &#13;
menunjukkan adanya beberapa aspek yang dapat diapresiasi, seperti &#13;
pentingnya keteladanan moral dalam diri seorang pemimpin, orientasi pada &#13;
kesejahteraan komunitas, serta kesadaran bahwa kepemimpinan merupakan &#13;
proses pembentukan diri seumur hidup. Namun, premis antropologis &#13;
Konfusianisme mengenai natur manusia yang dapat dibentuk dan &#13;
disempurnakan melalui pendidikan dan usaha manusia perlu dikritisi &#13;
menurut pengajaran Kristen, terutama tentang dosa. Kajian ini diharapkan &#13;
dapat membantu orang percaya dalam konteks Tionghoa untuk membaca &#13;
kembali warisan budayanya dan mengapresiasinya secara kritis sebagai salah &#13;
satu gema kebenaran Allah yang hadir di luar tembok gereja (extra muros &#13;
ecclesiae).
</summary>
<dc:date>2025-12-08T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Kaum Muda yang Berakar Kuat: Pelayanan Kaum Muda dalam Upaya Menumbuhkan Identitas Kaum Muda sebagai Gereja</title>
<link href="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/752" rel="alternate"/>
<author>
<name>Ronie Tama Petra Kharitoo Barasa</name>
</author>
<id>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/752</id>
<updated>2026-03-12T01:36:54Z</updated>
<published>2025-12-05T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Kaum Muda yang Berakar Kuat: Pelayanan Kaum Muda dalam Upaya Menumbuhkan Identitas Kaum Muda sebagai Gereja
Ronie Tama Petra Kharitoo Barasa
Penelitian ini menunjukkan bahwa peran pelayanan kaum muda sangat &#13;
penting dalam menumbuhkan identitas kaum muda sebagai gereja. Masa &#13;
muda merupakan fase penting pembentukan identitas religius, namun banyak &#13;
kaum muda mengalami keterputusan dari kehidupan bergereja sehingga &#13;
muncul identitas spiritual but not religious, identitas silo, dan identitas &#13;
penonton. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur untuk &#13;
menganalisis bentuk-bentuk identitas religius yang problematis, mengkaji &#13;
pemahaman teologis mengenai natur gereja sebagai karya Allah Tritunggal, &#13;
serta merumuskan strategi pelayanan yang dapat menolong kaum muda &#13;
menghidupi identitasnya sebagai gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa &#13;
identitas religius yang mengakar harus dibangun diatas pemahaman teologis &#13;
bahwa kaum muda adalah umat Allah yang dipanggil dalam persekutuan, &#13;
anggota tubuh Kristus yang saling bergantung, dan bait Roh Kudus yang &#13;
mengalami transformasi hidup. Oleh karena itu, pelayanan kaum muda perlu &#13;
memberikan pengajaran teologis mengenai gereja, mempraktikkan gaya &#13;
hidup sebagai gereja, dan memfasilitasi terjadinya relasi intergenerasi di &#13;
dalam gereja. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi bagi &#13;
gereja dalam membentuk identitas kaum muda yang berakar kuat sebagai &#13;
gereja.
</summary>
<dc:date>2025-12-05T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Membaca Ulangan 7 dengan Social Identity Theory</title>
<link href="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/751" rel="alternate"/>
<author>
<name>Daniel Stefanus Gultom</name>
</author>
<id>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/751</id>
<updated>2026-03-12T01:36:26Z</updated>
<published>2025-12-04T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Membaca Ulangan 7 dengan Social Identity Theory
Daniel Stefanus Gultom
Penelitian ini menganalisis proses pembentukan identitas sosial bangsa Israel &#13;
dalam Ulangan 7 dengan menggunakan perspektif Social Identity Theory (SIT), &#13;
yang dipelopori oleh Henri Tajfel. Dengan menggunakan metode SIT sebagai &#13;
pisau bedah untuk menganalisis Ulangan 7, penelitian ini menghasilkan tiga &#13;
temuan utama. Pertama, teks ini secara eksplisit menciptakan batasan&#13;
batasan kognitif yang tegas antara bangsa Israel (in-group) dengan tujuh &#13;
bangsa Kanaan (out-group) melalui kategorisasi sosial. Kedua, metode ini &#13;
memperlihatkan bahwa melalui identifikasi sosial, bangsa Israel &#13;
menginternalisasi identitas sosial yang diberikan YHWH kepada mereka, yang &#13;
didasarkan pada anugerah karena mereka dipilih meskipun mereka adalah &#13;
bangsa yang terkecil. Ketiga, analisis ini menunjukkan bahwa melalui &#13;
komparasi sosial, bangsa Israel mencapai superioritas di ranah spiritual &#13;
dibandingkan tujuh bangsa Kanaan, yang diekspresikan melalui kompetisi &#13;
sosial untuk menegaskan status mereka di tanah Kanaan.
</summary>
<dc:date>2025-12-04T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pendampingan Pastoral bagi Remaja yang Mengalami Kesepian Akibat Masalah Harga Diri</title>
<link href="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/750" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sriwahyuni Zega</name>
</author>
<id>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/750</id>
<updated>2026-03-12T01:37:25Z</updated>
<published>2025-12-03T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pendampingan Pastoral bagi Remaja yang Mengalami Kesepian Akibat Masalah Harga Diri
Sriwahyuni Zega
Penelitian ini menganalisis kesepian yang dialami oleh remaja sebagai akibat &#13;
dari masalah harga diri, serta menawarkan strategi pendampingan pastoral &#13;
untuk memulihkannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif&#13;
analisis dan menggunakan kajian literatur, penelitian ini menghasilkan tiga &#13;
temuan utama. Pertama, kesepian pada remaja tidak hanya berakar pada &#13;
kurangnya relasi sosial, tetapi terutama berasal dari harga diri yang terbentuk &#13;
secara keliru melalui dinamika perkembangan  isik, psikososial dan kognitif &#13;
yang tidak ditopang oleh pemahaman yang benar tentang bagaimana Allah &#13;
memandang remaja dalam kacamata Imago Dei. Kedua, pendampingan &#13;
pastoral berdasarkan pemahaman teologis tentang Allah sebagai Gembala, &#13;
memiliki pendekatan dan enam fungsi sebagai kerangka kerja yang dapat &#13;
menolong remaja mengalami pemulihan yang menyesuaikan kebutuhan &#13;
remaja. Ketiga, kesepian yang timbul akibat rendahnya harga diri dapat &#13;
dipulihkan melalui pendekatan persahabatan yang menekankan proses &#13;
pemulihan melalui relasi persahabatan, dan enam fungsi membimbing, &#13;
mendamaikan, menopang, menyembuhkan, mengasuh dan mengutuhkan &#13;
menjadi metode praktis yang dapat dimanfaatkan oleh pendamping untuk &#13;
menuntun remaja mengalami pemulihan yang berfokus pada pemulihan relasi &#13;
dengan Allah sebagai dasar membangun harga diri untuk dapat keluar dari &#13;
pengalaman kesepian.
</summary>
<dc:date>2025-12-03T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
