<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Repositori STT Amanat Agung</title>
<link href="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/1" rel="alternate"/>
<subtitle>Repositori STT Amanat Agung, Jakarta</subtitle>
<id>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/1</id>
<updated>2026-06-12T16:44:33Z</updated>
<dc:date>2026-06-12T16:44:33Z</dc:date>
<entry>
<title>Pengakuan Iman Nicea dan Pemahaman Bersama Iman Kristen (PBIK) 2024: Suatu Kajian Teologis Mengenai Keesaan Gereja dan Tanggung Jawab Kesaksian di Indonesia</title>
<link href="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/771" rel="alternate"/>
<author>
<name>Casthelia Kartika</name>
</author>
<id>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/771</id>
<updated>2026-06-03T07:21:36Z</updated>
<published>2025-11-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengakuan Iman Nicea dan Pemahaman Bersama Iman Kristen (PBIK) 2024: Suatu Kajian Teologis Mengenai Keesaan Gereja dan Tanggung Jawab Kesaksian di Indonesia
Casthelia Kartika
Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel (325/381) merupakan landasan teologis Gereja yang&#13;
menegaskan keilahian Yesus Kristus dan rumusan Trinitas sebagai dasar keesaan umat Allah. Di&#13;
Indonesia, gereja-gereja menghadapi kompleksitas baru yang bersifat multidimensi - disebut&#13;
sebagai polycrisis - yang meliputi krisis kesatuan gereja, krisis ekologis, krisis kemanusiaan, krisis&#13;
keluarga, krisis sosial, krisis teknologi, dan berbagai krisis lainnya. Dalam konteks tersebut,&#13;
Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menerbitkan Pokok-Pokok Bersama Iman Kristen&#13;
(PBIK) 2024 sebagai rumusan ru pemahaman iman yang menekankan paradigma baru Trinitarian,&#13;
yaitu Allah Persekutuan dan Allah Misional, serta mengusung model kesaksian “ecumenism in action.?"&#13;
Artikel ini menunjukkan hubungan teologis antara Pengakuan Iman Nicea dan PBIK 2024, serta&#13;
menafsirkan bagaimana kedua dokumen tersebut bersama-sama menyediakan kerangka teologis&#13;
yang relevan bagi gereja-gereja Indonesia dalam melaksanakan kesaksiannya di tengah masyarakat&#13;
majemuk. Melalui pendekatan historis-teologis dan analisis kontekstual, artikel ini menegaskan&#13;
bahwa PBIK 2024 bukan hanya rumusan dogmatis, melainkan perwujudan sebuah nilai praksis&#13;
dari kesaksian Gereja yang nyata di tengah masyarakat Indonesia.
</summary>
<dc:date>2025-11-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Yohanes dan Antikristus</title>
<link href="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/770" rel="alternate"/>
<author>
<name>Jonly Joihin</name>
</author>
<id>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/770</id>
<updated>2026-04-21T06:29:07Z</updated>
<published>2026-03-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Yohanes dan Antikristus
Jonly Joihin
Ditinjau dari sudut bahasa, istilah "antikristus" sebenarnya memiliki makna yang sederhana. Kata "antikristus" adalah kata majemuk, bentukan dari kata benda "Kristus", yang merujuk pada Yesus Kristus, dan awalan bentuk terikat "anti-" yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi VI berarti "menentang, melawan, memusuhi." Jadi, secara ringkas antikristus dapat diartikan sebagai, "menentang Kristus", "melawan Kristus", atau "memusuhi Kristus". Namun, pada kenyataannya, pemahaman tentang apa atau siapa yang disebut antikristus di dalam Alkitab tidak sesederhana itu bagi orang Kristen dalam sejarah. Banyak pandangan telah dikemukakan. Pandangan-pandangan ini tidak jarang menimbulkan kebingungan dan bahkan keresahan di antara orang Kristen. Jadi, apa atau siapa antikristus itu? Apa yang dimaksud dengan antikristus dalam Alkitab, secara khusus menurut Yohanes dalam surat-suratnya? Sebelum melakukan penggalian terhadap makna antikristus dalam Alkitab, ada baiknya kita melihat terlebih dahulu berbagai pandangan yang pernah muncul dalam sejarah tentang apa atau siapa antikristus itu.
</summary>
<dc:date>2026-03-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Paulus dan Konflik Gereja</title>
<link href="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/769" rel="alternate"/>
<author>
<name>Surif</name>
</author>
<id>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/769</id>
<updated>2026-04-21T06:26:07Z</updated>
<published>2026-03-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Paulus dan Konflik Gereja
Surif
Konflik sangat melekat dalam kehidupan kita sebagai manusia. Ini dapat terjadi di antara anggota keluarga, sahabat, tetangga, rekan kerja, suku bangsa bahkan negara. Gereja sebagai suatu komunitas ternyata juga tidak kebal dari konflik. Konflik dapat terjadi di antara anggota gereja, antara anggota dan pemimpin gereja, hingga antara para pemimpin gereja. Bagaimanapun bentuknya dan siapa pun yang terlibat, konflik akan melemahkan gereja. Oleh sebab itu, konflik perlu diselesaikan dengan baik. Tulisan ini mencoba mengupas satu prinsip penting dalam penanganan konflik gereja. Prinsip ini diangkat dari Alkitab. Perjanjian Baru memperlihatkan bahwa konflik sudah terjadi sejak awal gereja didirikan. Dalam perjalanan ke Yerusalem, murid-murid Yesus bertengkar memperebutkan posisi tertinggi di antara mereka (Mrk. 10:35-45; Luk. 9:46-48; Mat. 20:20-28). Gereja mula-mula di Yerusalem yang sedang berkembang pesat mengalami konflik berkenaan pelayanan diakonia (Kis. 6). Beberapa surat Paulus, seperti Filipi, 1 Korintus, dan Roma, ternyata ditulis untuk menangani konflik gereja. Berkenaan dengan hal ini, tulisan ini menyoroti bagaimana Paulus menangani konflik dalam gereja-gereja tersebut melalui surat-suratnya. Pembahasan difokuskan pada Injil Yesus Kristus. Umat Kristen biasanya memahami Injil ini sebagai obyek iman yang menjadi dasar keselamatan sebagaimana yang dinyatakan dalam Roma 1:16: "Sebab, aku tidak malu terhadap Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani." Ini tentu saja kepercayaan kita sebagai umat Kristen. Namun demikian, kita sering kali melupakan bahwa Paulus juga menjadikan Injil Yesus Kristus sebagai prinsip hidup umat Kristen sebagaimana kesaksiannya di Galatia 2:19-20: "Sebab, aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus. Namun, aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku." Berangkat dari ini, tulisan ini menyoroti bagaimana Paulus memakai Injil Yesus Kristus dalam penanganan konflik gereja dalam surat-suratnya. Pembahasan dimulai dari surat Filipi karena surat ini menampilkan konten Injil Kristus secara lebih komprehensif.
</summary>
<dc:date>2026-03-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Amos dan Ibadah</title>
<link href="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/768" rel="alternate"/>
<author>
<name>Armand Barus</name>
</author>
<id>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/768</id>
<updated>2026-04-21T05:05:01Z</updated>
<published>2026-03-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Amos dan Ibadah
Armand Barus
Ibadah adalah kegiatan paling sentral dan tak tergantikan dalam kehidupan gereja Kristen. Ibadah merupakan aktivitas yang tidak dapat digantikan oleh kegiatan apa pun di gereja, sebab hanya ibadah yang bersumber dari dan berlanjut ke dalam kekekalan (bdk. Why. 4-5). Ibadah adalah poros utama gereja dalam pendewasaan iman jemaat dan pemeliharaan iman jemaat Kristen. Ringkasnya, tidak ada kegiatan gereja yang sanggup menggantikan ibadah. Ibadah pada umumnya dipahami sebagai respons kepada Allah. Namun, David Peterson menegaskan bahwa respons tersebut harus dipahami dari sudut pandang Allah. Kita tidak dapat begitu saja memberi respons kepada Allah dalam ibadah. Alkitab mengajar bahwa Allah terlebih dahulu menarik kita ke dalam relasi dengan-Nya sebelum kita mampu memberi respons dalam cara yang dapat diterima-Nya. Dalam pengertian seperti itu, Peterson merumuskan ibadah sebagai "an engagement with him on the terms that he proposes and in the way that he alone makes possible." (Artinya: suatu keterlibatan dengan Allah sesuai dengan syarat-syarat yang ditetapkan-Nya dan dengan cara yang hanya Allah sendiri membuat mungkin terjadi). Ibadah Kristen adalah respons manusia kepada Allah menurut cara yang ditentukan oleh Allah sendiri. Artikel ini tidak berpretensi untuk mengevaluasi atau mengusulkan definisi baru tentang ibadah. Pokok perhatian artikel diarahkan pada relasi antara ibadah dan keadilan (justice). Mengapa kita perlu menelusuri hubungan ibadah dan keadilan? Tampaknya dimensi keadilan dalam ibadah belum memperoleh perhatian yang layak dari gereja Kristen masa kini. Ibadah dan keadilan dipandang tidak berkaitan. Pengamatan serupa dikemukakan Mark Labberton dalam bukunya The Dangerous Act of Worship ketika ia menulis "our worship practices are separated from our call to justice." (Artinya: praktik ibadah kita terpisah dari panggilan kepada keadilan). Keprihatinan yang ingin ditegaskan melalui artikel ini ialah renggangnya hubungan antara ibadah dan keadilan. Benarkah tidak ada keterkaitan antara ibadah dan keadilan?
</summary>
<dc:date>2026-03-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
